Sabtu, 12 November 2011


Kisah Cheerleaders Tertua Di Dunia Di Buat Film
Ketika berusia 39 tahun, Laura Vikmanis ditinggal pergi suaminya. Laura merasa sedih, galau dan frustasi. Suaminya meninggalkan dia demi seorang perempuan yang lebih muda.
Suatu saat Laura sadar, dia tak boleh larut dalam kesedihan, dia perlu bangkit dan mengerjakan sesuatu yang menyenangkan untuk mengisi hari-harinya. Maklum, dua anak perempuannya sudah remaja.
Ide itu datang dari adik Laura. Ketika mereka berdua tengah menonton pertandingan football, Cincinnati Bengals. Adiknya melontarkan usulan kepada Laura, mengapa kamu tidak jadi Cheerleader (pemandu sorak) saja.
Tiga tahun kemudian, Laura mewujudkan ide itu. Di usia 42 tahun dia menjadi cheerleader. Laura tercatat cheerleader paling tua di liga football Amerika Serikat. “Sampai sekarang aku masih tak percaya,” katanya.
Untuk menjadi cheerleader, Laura perlu perjuangan keras. Dia sempat ditolak pada audisi pertama. “Aku merasa terintimidasi, semua usianya lebih muda 20 tahun dariku,” kata Laura.
Tahun berikutnya, Laura kembali ikut audisi. Setelah berlatih keras, dia berhasil mengalahkan ratusan calon yang usianya jauh lebih muda. Dia terpilih menjadi cheerleader Cincinati Bengals.
Keluarga Laura mendukung apa yang dilakukannya. “Awalnya mereka tak menyangka, mereka hanya bilang, itu menarik untuk dicoba,” katanya. “Tapi begitu aku terpilih mereka menangis.”
New Line Cinema, rumah produksi yang membuat film The Hobbit, Sex and The City, tertarik mengangkat kisah ini ke layar lebar. “Ini kisah yang menarik, dia bangkit dan menemukan dirinya lagi,” kata penulis naskah, Emily Cook


 Kisah Cheerleaders Tertua Di Dunia Di Buat Film
Ketika berusia 39 tahun, Laura Vikmanis ditinggal pergi suaminya. Laura merasa sedih, galau dan frustasi. Suaminya meninggalkan dia demi seorang perempuan yang lebih muda.
Suatu saat Laura sadar, dia tak boleh larut dalam kesedihan, dia perlu bangkit dan mengerjakan sesuatu yang menyenangkan untuk mengisi hari-harinya. Maklum, dua anak perempuannya sudah remaja.
Ide itu datang dari adik Laura. Ketika mereka berdua tengah menonton pertandingan football, Cincinnati Bengals. Adiknya melontarkan usulan kepada Laura, mengapa kamu tidak jadi Cheerleader (pemandu sorak) saja.
Tiga tahun kemudian, Laura mewujudkan ide itu. Di usia 42 tahun dia menjadi cheerleader. Laura tercatat cheerleader paling tua di liga football Amerika Serikat. “Sampai sekarang aku masih tak percaya,” katanya.
Untuk menjadi cheerleader, Laura perlu perjuangan keras. Dia sempat ditolak pada audisi pertama. “Aku merasa terintimidasi, semua usianya lebih muda 20 tahun dariku,” kata Laura.
Tahun berikutnya, Laura kembali ikut audisi. Setelah berlatih keras, dia berhasil mengalahkan ratusan calon yang usianya jauh lebih muda. Dia terpilih menjadi cheerleader Cincinati Bengals.
Keluarga Laura mendukung apa yang dilakukannya. “Awalnya mereka tak menyangka, mereka hanya bilang, itu menarik untuk dicoba,” katanya. “Tapi begitu aku terpilih mereka menangis.”
New Line Cinema, rumah produksi yang membuat film The Hobbit, Sex and The City, tertarik mengangkat kisah ini ke layar lebar. “Ini kisah yang menarik, dia bangkit dan menemukan dirinya lagi,” kata penulis naskah, Emily Cook


    Cheerleaders, pasti semua membayangkan sekumpulan perempuan cantik dan seksi yang bergerak lincah untuk mendukung tim basket... Baiklah bisa dikatakan itu benar cheerleaders memang masih didominasi oleh perempuan, tapi untuk saat ini lelaki pun bisa jadi seorang cheerleaders... Hmm pasti banyak yang membayangkan laki-laki cheerleaders pasti lemah dan gemulai, nah ini yang salah..
    Oke langsung saja saya jelaskan apa itu Cheerleaders. Cheerleaders adalah salah satu olahraga yang tergolong extreme, kenapa bisa disebut begitu? Bagaimana tidak extreme mereka harus dapat menggabungkan beberapa gerakan seperti tumbling, gymnastyc, dance, stunt, & pyramid. Disini yang saya maksudkan pyramid bukan seperti jaman dahulu atau yang suka kalian liat di sinetron-sinetron Indonesia, disini mereka harus membuat piramida yang cukup sulit (dapat dilihat di background blog ini). Karena itu para cheerleaders harus punya kekuatan bukan cuma modal tampang....
    Cheerleaders Indonesia saat ini memiliki beberapa organisasi yang menaunginya, sebut saja ICA, ICC, dan The A Team.. Cheerleaders juga saat ini memiliki kompetisi-nya sendiri seperti SNCC dan NCC, yang penilaiannya dibagi menjadi beberapa divisi seperti divisi SMP, SMA,dan Open Division. Untuk peraturannya sendiri Indonesia mengadopsi peraturan dari organisasi international seperti IFC (yang berbasis di Jepang) dan ICU (yang berbasis di Amerika)..